Hidupmu Hidupku ^cerpen^

Agni memandang jendela kamarnya yang penuh dengan bulir air hujan. Yah, siang itu hujan deras sedang mengguyur bumi. Agni menyentuh permukaan kaca jendela. Lalu menghela nafas panjang. Hari ini tepat 3 tahun kematian orang tuanya…
Orang tuanya sudah lama meninggal. Karena sebuah kecelakaan pesawat. Sejak saat itu, Agni menjalani semuanya sendiri. Sampai akhirnya tante Ira datang dan membawa Agni kerumahnya, dan merawat Agni penuh kasih sayang. Agni merasa bahagia karena perhatian dan kasih sayang itu setiap hari datang padanya. Agni melupakan rasa sedihnya karena sudah kehilangan kedua orangtua, dan memulai kehidupan yang baru.
Seolah kebahagiaan hanya datang sementara, Agni didiagnosa dokter mengidap kelainan jantung yang sebenarnya dari kecil sudah ada di tubuhnya. Penyakit itu menyita semua sifat Agni yang menjadi cirri khasnya, Ceria dan lincah. Apalagi dia tidak bisa bermain basket lagi di lapangan depan rumah. Ia juga tak bisa selincah dulu lagi. Jika Agni terlalu aktif, ujung-ujungnya semua berakhir dirumah sakit.
***
“agni sayang, habiskan makananmu. Kalau kamu tidak makan, nanti kamu sakit.” Kata tante Ira sambil menyodorkan sesendok nasi lagi ke Agni, tapi Agni menggeleng lemah. Perutnya sudah penuh dan ia merasa tidak bisa menerima makanan lagi dari luar.
“agni.. kalo kamu gak mau makan, penyakitmu akan semakin parah loh” bujuk Sivia, gadis cantik itu adalah sepupunya Agni. Ia sangat baik dan perhatian. Ia setiap hari menjaga Agni. Agni sedikit kasihan padanya karena baik disekolah maupun dirumah, tugasnya Cuma menjaga dan memperhatikan Agni. Sampai-sampai urusannya sendiri tak terurus.
“vi.. aku udah kenyang. Biar aja kalau aku tambah parah. Biar aku bisa nyusul Mama sama papa.” Kata Agni datar. Via dan tante Ira saling memandang. Tante Ira menggeleng lemah, lalu tersenyum.
“kalau begitu, tante berangkat kerja dulu ya. via, hari ini kamu jaga Agni dulu dirumah. Kalian libur kan?” Tanya tante Ira, Via mengangguk sambil merapihkan poninya.
“tante pergi dulu ya, assalamualaikum”
“walaikumsalam” jawab Agni dan Via berbarengan. Via merapikan piring dan gelas bekas Agni pakai tadi. Sementara Agni masih memandang jendela kamarku dengan tatapan kosong. Ia merindukan lapangan basket.
“vi…”
Sivia menatapku, “ya, Ag?”
“gue kangen labas nih” kataku sambil menunjuk lapangan basket di depan rumahku. Sivia menatapku lalu mengelus poni Agni, “lo mau kesana?”
“ya.” jawab Agni singkat, “anterin gue ya”
“sip! Tapi gue ganti baju dulu ya.”
***
Agni dan Sivia duduk di ujung lapangan, sambil menatap orang-orang yang sedang bermain basket di lapangan itu. Via Nampak senyum-senyum sambil memperhatikan seorang lelaki tinggi, hitam manis.
“Ag, itu cowo gue main basket” kata Via seolah ia dapat membaca pikiran Agni. Agni menatap cowo yang ditunjuk Via.
“Oh.. lumayan manis” komen Agni, Agni asyik memperhatikan orang-orang yang sedang bermain basket. Sepertinya Agni kenal cowo Via itu. Itukan Gabriel? Anak kelas X-1?
“itu Iel kan, Vi?” Tanya Agni meyakinkan.
Sivia tersipu malu, “iya.”
Tak lama setelah mereka membicarakan Iyel, cowo itu berjalan ke arah kami dengan senyum yang merekah. Ia mencubit pipi Via, lalu dibalas Via dengan senyuman manis.
“hey, Ag! Sudah sembuh?” Tanya Gabriel ketika melihat Agni yang sedang memperhatikan kemesraan mereka.
“yah, lumayan lah.” Kataku sambil tersenyum seadanya.
“tapi, Agni jarang mau makan, Yel! Dia tuh susah kalo diomongin!” gerutu Via sambil menatap Agni. Agni terkekeh lalu menatap lapangan basket. Agni melihat seorang lelaki dengan baju kaos ungu, dan celana pendek asyik mendrible bola dan men-shootnya. Agni sedikit takjub dengan permainannya. Andai dia masih bisa bermain basket.
Cowo itu lalu mengambil bola itu dan menghampiri Gabriel.
“Oi, bro. balik sekarang?” Tanya cowo itu sambil melempar bolanya ke Gabriel.
“ah, nanti Cakk. Gue masih kangen sama Viaaaa.” Kata Gabriel sambil mencubit lagi pipi Via. Via mendengus lalu memukul lengan Gabriel pelan.
Via menatap Agni dan menepuk jidatnya, “oh iya, kenalin, ini sepupu aku, Agni.”
Cowo yang dipanggil ‘cakk’ tadi menatap dan memperhatikan Agni. Lama sekali, sampai Agni harus menunduk.
“aku Cakka” katanya sambil mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Agni. Agni tersenyum dan membalas uluran tangannya, “Agni.”
Via menatap monol putihnya, “udah jam 10. Ag, makan obat dulu yuk…”
“yah” Agni tersenyum sambil mengangguk pelan.
“kalian mau mampir?” Tanya Via pada Cakka dan Gabriel. Mereka mengangguk setuju, lalu mengikuti langkah Agni dan Via yang sudah duluan masuk kedalam rumah.
***
“widihhh.. rumah lo gede banget, Vi!” ucap Cakka norak. Gabriel menoyor Cakka.
“norak amet sih. hehe, sorry vi..” Iyel tersenyum sambil menyikut Cakka, Via tersenyum.
“gak papa kali, Cakk, Yel. Ayo masuk.” Kata Via sambil berjalan menuju kamar Agni yang ada disamping kamarnya. Cakka dan Gabriel masuk kesebuah kamar bernuansa hitam-putih. Di dalamnya ada double bed dan sebuah grand piano.
“ini kamar lo, Vi?” Tanya Cakka.
Via menggeleng, “kamar Agni”
Cakka duduk didepan grand piano itu. Jari-jarinya dimainkan di atas tuts piano. Walaupun gak bisa, hehe. Cakka beralih menatap gitar coklat di samping piano, dengan senyum sumringah, ia mengambil gitar tersebut lalu memetik senarnya.
“jauh kau pergi meninggalkan diriku… Eaea, suara gue emas juga, hehe” kata Cakka sambil memuji dirinya sendiri. Gabriel melempar kertas yang diremas ke Cakka.
“huu.. narsiss.” Kata Gabriel. Via dan Agni tertawa kecil. Cakka yang menatap Agni tersenyum itu merasa jantungnya berdegup cepat.
‘manis banget…’ batin Cakka.
“eh, Cakk.. lu besok masuk sekolah kan?” Tanya Gabriel,
“yo’a. masa gue bolos mulu. Lo pikir otak gue sekriminal itu apa.”
Gabriel menjulurkan lidahnya.
“eh, Vi. Kayaknya gue sama Cakka pulang dulu deh, gapapa kan?”
Cakka menggeleng, “gue masih betah disini tau…”
“yaudah, lo disini aja. gue mau pulang. Besok kelas kita ada ulangan bego”
“oh iya yah, yaudah, via, Agni. gue sama Iyel balik dulu ya.”
“Haha… Iya, Ag, gue kebawah dulu ya. Nganterin mereka dulu,” kata Sivia. Agni mengangguk.
Setelah semua keluar dari kamarnya, Agni memainkan tangannya di piano, terlintas sebuah lagu dipikirannya.

Pertemuan singkat.
Dan berjalan sangat cepat.
Tidak disangka.
Aku lansung terhipnotis olehmu…
***
Pagi itu Agni dan Via berjalan menyusuri koridor berdua. Wajah Agni hari itu sumringah. Ia mengajak Via lewat kelas X-1 agar ia bisa menatap cowo yang membuatnya penasaran itu.
“ag, kita mampir ke kelas Gabriel bentar, yuk.” Ajak Via saat mereka hampir melewati kelas X-1. Agni mengangguk, jantungnya berdetak cepat. Ia akan bertemu lelaki itu.
Benar saja, di kelas Agni melihat Cakka sudah duduk dikursinya, disebelah Gabriel. Dengan senyum yang mengembang ketika melihat Agni. Agni lansung salting, dan membalas senyum Cakka dengan senyuman malu-malu.
“Iel, gue pinjem buku catatan MTK, ye? Gue lupa bawa nih” kata Sivia, Gabriel mengambil buku bersampul coklat di dalam tasnya dan menyodorkan buku itu ke Via. Cakka masih memperhatikan Agni yang kelihatan pucat pagi itu.
“entar ke kantin bareng yah, sayang…” ucap Gabriel, Via mengancungkan jempolnya sambil menggenggam lengan Agni. Agni sempat melihat kebelakang, dan bertemu pandang dengan Cakka. cakka tersenyum manis, Agni membalasnya dengan senyum juga.
“Eh, Cakk. Lu ngapa senyum-senyum? Lu naksir Via? Eh, eh.. apa jangan-jangan lu naksir… Agni?”
Cakka Cuma tersenyum. Entah kenapa hatinya tertarik sekali dengan senyum manis Agni. Ada aura lain yang membuat Cakka suka. Ia beda.
***
Kantin hari itu lumayan sepi, membuat Sivia dengan cepat mendapatkan pesanannya. Disamping Via ada Gabriel dan di depannya ada Agni. Sementara di samping Agni ada Cakka yang sedang sibuk main rubik.
“Ag, lo gak makan?” Tanya Via sambil menatap Agni yang wajahnya Nampak pucat.
“gue ga napsu. Dada gue sakit, Vi…”
Via menatap Agni sekali lagi, tatapan Cemas. “gue anter pulang ya??!”
“gausah, vi.. biar gue aja yang nganter.” Ucap Cakka sambil melepas pandangannya dari rubiknya,
“gapapa, Cakk?” Tanya Via meyakinkan.
“gapapa. Lo bener mau pulang, Ag?” Tanya Cakka, Agni menatap Cakka lama. Lalu mengangguk.
“yaudah, gue nganter Agni pulang dulu, ya… Ijinin gue yel” kata Cakka sambil berjalan dibelakang Agni.
Setelah keduanya menjauh, Via menatap Gabriel dengan tatapan mengintrogasi. “Cakka naksir sama Agni, Yel? Masa baru ketemu sekali?”
“iya kali, Vi. Pesonanya Agni kali, haha”
Via tersenyum sambil mengunyah makanannya, sesekali menatap Agni yang berjalan pelan menuju kelas. ‘kayaknya Agni juga suka sama Cakka.’
***
“kita naik motor, ya, Cakk?” Tanya Agni ketika mereka sampai di parkiran. Cakka mengangguk. Agni menggigit bibir bawahnya, ragu.
“kenapa?” Cakka menyadari perubahan raut wajah Agni.
Agni mencoba tersenyum, “ga..”
“lo takut kedinginan karena naik motor?” Tanya Cakka, Agni mengangguk. Dia memang gak sekuat yang lain. Yang bisa naik motor tanpa jaket.
“nih” Cakka menyodorkan jaket putihnya pada Agni. agni menerimanya dan memaikainya. Kebesaran.
“thanks”
Cakka mengangguk, “yaudah, naik.”
Agni naik ke motor Cakka, dan memeluk pinggangnya agar gak jatuh.
“pegangan Ag.” Suruh Cakka.
“ya,” entah ada apa, hati Cakka cenat-cenut. Ia tersenyum sambil membawa motornya ke rumah Agni.
***
Agni duduk didepan jendela kamarnya. Sesampainya Agni dirumah tadi, hujan deras mengguyur lagi. Jadi, Cakka terpaksa (bukan terpaksa tapi emang disuruh sivia) menunggu dirumah Agni, sampai hujan reda, atau sampai sivia pulang sekolah.
Cakka masuk kedalam kamar Agni, membawa nampan berisi bubur dan air minum. Tak lupa obat yang selalu harus Agni makan.
“Agni, makan yok..” ajak Cakka riang. Agni menggeleng lemah, lalu, membuang pandangannya dari jendela.
“kok gak mau? Harus mau, Agni…”
“gak ah, Cakk.. udah kenyang…”
Cakka memajukan bibirnya, “kenyang dari mana, Ag? Tadi istirahat kan lo belum makan. Ayo dong, Ag, makan. Cakka suapin ya? Aaa’.. Aaa’ donggg!” bujuk Cakka, tapi, Agni tetep keukeuh menutup mulutnya.
“Agniiiiii…. Aaa’ dong…” ucap Cakka dengan nada manja. Agni menggeleng. Cakka mendekatkan sendok berisi bubur itu ke hadapan Agni, “ayo, aaa’..”
Mau tak mau, Agni membuka mulutnya dan menelan bubur buatan Cakka.
“enak kan? Buatan gue loh…” ucap Cakka sambil tersenyum bangga.
“enak.” Jawab Agni jujur.
Cakka tersenyum manis, “iyadong. Yuk, makan lagi.” Perintah Cakka.
Agni merasa ada yang beda sama Cakka. ia baru sekali dekat dengan cowo. Agni gak tau, apakah Cakka Cuma ada perasaan kasian sama Agni, atau perasaannya sama seperti yang Agni rasakan. Entahlah, yang jelas, Agni nyaman didekat Cakka.
***
Sudah seminggu ini Cakka rutin bermain kerumah Agni dalam rangka main, atau sekedar menjemput. Semakin lama kedekatan Cakka dan Agni juga layak sepasang kekasih. Tapi, Cakka Cuma tersenyum jika ditanya sama Gabriel tentang perasaannya pada Agni.
Hari ini Cakka datang kerumah Agni dengan membawa sebuah kamera SLR. Agni mengerutkan dahinya ketika melihat Cakka dateng-dateng berteriak dan menarik tangan Agni.
“cakk… mau kemana?” Tanya Agni ketika dilihatnya Sivia dan Gabriel juga mengikuti mereka.
“mau bikin foto Pra-Wedding.” Jawab Cakka.
“HA?” Agni tercengang lalu melepas tangan Cakka paksa. Cakka tersenyum lebar lalu mencubit pipi Agni.
“ya gak mungkin lah, Agni. siapa yang mau kawin, coba? Kita mau foto-foto. Soalnya gue baru beli kamera.” Kata Cakka sambil menunjuk kamera yang tergantung dilehernya. Agni mangut-mangut.
“bener, Ag. Kenang-kenangan dong, nanti kalo misalnya kita udah berkeluarga, kita bakal inget sama persahabatan kita berempat.” Kata Via menambahkan. Agni tersenyum manis.
Mereka sekarang berdiri di sebuah bukit dekat rumah Agni. dibawah ada pemandangan kota yang kalau malam terlihat indah dengan lampu-lampu yang kemerlap.
**
Cklek.
“Yel, potoin gue sama Agni dong.” pinta Cakka sambil menyodorkan kamera SLR itu padanya. Gabriel dan Sivia lansung bersiul ria. Agni tersenyum malu.
“ayo, Ag.” Ajak Cakka sambil menggenggam jemari Agni. Mereka berdua saling berangkulan, lalu tersenyum manis di foto itu. Cakka mendekatkan bibirnya ke telinga Agni, hendak berbisik sesuatu.
“ag…” bisik Cakka, “gue sayang sama lo… jangan pergi dari gue…”
Agni tersenyum. Cakka memeluk tubuh mungil Agni, sementara Gabriel dan Sivia mengambil kesempatan emas itu untuk mengabadikannya dan, ‘cklek’.
“ih. kok difoto sih?” gerutu Agni sambil memasang wajah sebal.
Gabriel membentuk tangannya menjadi huruf V, sementara Sivia Cuma nyengir kuda.
‘andai gue bisa menikmati indahnya dunia ini… gue ga rela ngelepasin Cakka…’ batin Agni sambil menatap Cakka yang lagi kejar-kejaran sama Gabriel.
“Ag… jam 7 gue jemput ya.” bisik Cakka ketika ia berhenti disebelah Agni. Agni mengangguk lalu tersenyum.
***
Malam hari itu, Cakka mengajak Agni ke tempat dimana mereka berfoto tadi. Ia ingin menunjukkan indahnya bintang malam di malam hari. Kunang-kunang menemani mereka yang sedang dimabuk cinta. Agni menatap Cakka yang juga sedang menatap Agni.
“ag, kalo boleh gue tau, lo sakit apa sih?” Tanya Cakka, Agni tersenyum.
“kelainan jantung.”
Cakka menatap Agni tak percaya, “ke… kelainan jantung?”
“i.. iya. Dan hidup gue gak akan lama lagi, Cakk.” Kata Agni santai. Seperti sudah melontarkan seribu kali perkataan itu. Cuma Cakka yang memasang wajah shock.
“kok lo gak pernah ngasih tau gue, Ag?” Tanya Cakka.
“lo gak nanya sih, Cakk.” Jawab Agni cuek.
“Agni. gue serius! Lo kenapa gak pernah ngasih tau gue?”
Agni menundukkan wajahnya, “gue… gue takut. Lo bakal ninggalin gue. kayak… Ozy.”
“Ozy?” Tanya Cakka sambil menaikkan alisnya.
“Cowo gue dari SMP. Dia pergi gitu aja setelah tau penyakit gue. tiga hari setelah dia tau, dia lansung kabur gitu aja. gue pikir dia bakal nerima gue. tapi ternyata? Sakit hati gue.”  tangis Agni mulai keluar.
“Agni… gue tulus sayang sama lo. Gue cinta sama lo. Dan gue gak perduli kalo lo sakit parah. Gue cinta apa adanya lo dan gue pengen, lo jadi yang terakhir di hidup gue”
Cakka mendekatkan wajahnya ke Agni. nafasnya sudah dapat dirasakan Agni. ia memejamkan matanya. Sampai sentuhan hangat dapat dirasakan di bibirnya.
“Ag, gue sayang lo. Berusaha, Ag… demi gue.” kata Cakka sambil menggenggam tangan Agni kuat. Agni mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Cakka.
***
“APA? ADA PENDONOR TANTE?” Teriak Agni girang, Cakka, Sivia dan Gabriel tersenyum bahagia mendengar kabar manis tersebut.
“iya, oh iya. Katanya pendonornya itu teman SMP kamu loh.” Kata Tante Ira, Agni mengerutkan dahinya.
“Siapa?”
“iya, seminggu yang lalu ia meninggal dunia. Dan sebelum meninggal, ia berpesan untuk menitipkan jantungnya ke kamu. Kok dia bisa tau kamu sakit?”
Agni berfikir lalu tersenyum, “selesai operasi, ajak Agni liat makam dia tante! Plisss!”
“pasti…!” kata tante lalu tersenyum. Sepertinya ada yang disembunyikan tante Ira. Saat Agni, Cakka, Gabriel, dan Sivia keluar dari kamar Tante Ira, ia mengambil sebuah map yang berisi kertas siapa pendonor jantung Agni.
“dia Ozy, Agni… Dia Ozy…”
***
Hari ini Agni operasi. Cakka, Sivia, Gabriel dan Tante Ira menunggu dengan harapan Agni dapat sembuh. Sivia menyandarkan kepalanya di pundak Gabriel, sementara Cakka menyatukan kedua tangannya dan menjadikan tangannya sebagai penopang wajahnya.
Dokter keluar dari ruang operasi. Tante Ira lansung berdiri dan menatap Dokter penuh harap.
“bagaimana, dok?”
“Alhamdulillah, operasi lancar. Kita menunggu 48 jam supaya jantung Ozy dapat diterima di tubuh Agni.” kata Dokter, Tante Ira melotot. Sementara Sivia menatap Dokter tak percaya.
“OZY? Ozy siapa? Ahmad Fauzy Adriansyah? Mantan Agni yang… Ma! Jawab! Ozy siapa?” teriak Sivia sambil menggoyangkan bahu mamanya. Tante Ira menunduk.
“ya, Sayang. Ahmad Fauzy. Ia meninggal kemarin. Ia menderita tumor otak. Dan dia berpesan pada tante agar Agni menjaga jantungnya dengan baik.”
Sivia melepas tangannya dari bahu mamanya. “jadi itu alasan Ozy untuk pergi dari hidup Agni”
***
Agni tersenyum manis ketika melihat siapa yang masuk ke kamarnya. Dilihatnya Cakka, Sivia, dan Gabriel datang dengan senyum paling manis.
“Sudah siap pulang, Cantik?” Tanya Cakka sambil tersenyum genit.
Agni terkekeh lalu menatap Sivia yang sedang mengambil tas Agni di sofa, “vi. Jangan lupa hari ini lo anter gue ke makam pendonor jantung gue. awas enggak”
Sivia mengangguk gak yakin. Lalu membantu Agni berdiri.
“ag, tapi lo jangan shock ya kalau udah liat makan pendonor jantung lo?”
“sippo!” jawab Agni yakin
__
Agni menatap nisan itu tak percaya. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya tumpah. Sivia menenangkan Agni yang sudah berlinang air mata. Cakka dan Gabriel berdiri mematung di depan Agni dan Sivia. Agni terduduk di sebelah makan ozy. Dielusnya nisan bertuliskan “AHMAD FAUZY ADRIANSYAH”.
“hhh… hhh… Vi.. kenapa Ozy?” Tanya Agni sambil menatap Via yang ikut meringkuk.
Sivia mengangkat bahunya, “gue gak tau, Ag. Tuhan sudah mengatur semuanya. Sebelum si Ozy meninggal, dia nitip ni surat ke tante. Nih..”
Agni mengambil surat berwarna pink. Wangi parfum Ozy tercium di surat itu. Membuat Agni ingin memeluk Ozy.
‘dibawah batu nisan kini, kau tlah sandarkan… kasih sayang kamu… begitu dalam…’
***
My dear Agni :*

Agni…
Gue harap saat lo baca surat ini, lo udah make jantung gue ya.
Hey, cantik!
Tau gak, kenapa gue waktu itu ninggalin lo? Karena gue gak mau lo tau gue punya tumor.
Gue udah pikir mateng-mateng.
Gue bakal ngedonorin Jantung gue buat First Love gue. hihi

Ag…
Lo tau? Lo itu First and Last love gue. Seperti janji gue ke elo.
Inget kan? Gue pernah bilang “ag, kamu bakal jadi First and Last Love gue.”?
Itu bener terjadi lo.

Agni.. jangan nangis terus ya.
Gue harap, lo bisa tersenyum.
Kan ada gue, hehe. Di hatimu pastinya.
Kau Jantung Hatiku Agni :* ( sinetron banget gue )

Love
Aa’ Ozy ganteng :p hehe
- Ahmad Fauzy Adriansyah :) -

Agni sudah berulang kali baca surat itu, dan sekarang, ia sudah bisa menerima semuanya. Ada Cakka yang selalu menghibur Agni disaat Agni terpuruk. Tak lupa SivIel yang tak henti-hentinya memberikan Agni kekuatan.
“agni, udah siap belum?” Tanya Sivia sambil menatap Agni yang duduk didepan kaca.
“gue belum siap jadi istri Cakka…” kata Agni sambil menggigit bibir bawahnya.
“haha. Gue juga dulu gitu, Ag. Belum siap jadi istri Gabriel, tapi liat kan? Gue bisa. Dan dikaruniai Tuhan si cantik Acha…” Ucap Sivia yakin sambil mencubit pipinya sendiri karena gemas. Sivia dan Iel memang sudah menikah 3 tahun lebih dulu daripada Agni. Cakka menunggu Agni yang memang belum siap menikah muda.
“hah, gue harap gue siap.” Kata Agni sambil tersenyum.
Agni turun menyusuri anak tangga, senyumnya mengembang ketika melihat Cakka sudah siap dibawah sambil tersenyum. Dan… Agni dapat menangkap wajah Ozy di barisan belakang. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan ke Agni. Agni membalas senyum itu dengan manis.
‘Jantung gue, adalah jantung Ozy.’
Agni duduk disebelah Cakka, ia meremas rok batiknya saking gugup. Sebelumnya, Cakka menggenggam tangan Agni. tangan cakka udah dingin banget.
__
“Agni! selamat ya, lo udah nikah sekarang!!!” ucap Sivia sambil memeluk sepupunya.
“Iya, makasih ya Vi… haduh, lega banget, Vi… Akhirnyaaaa tau. Penantian panjang gue”
Sivia tersenyum, “padahal dulu lo pernah berjanji mau kawin sama Ozy kan?”
“iya. Tapi, dia tetap ada di hati gue, Vi. Karena jantung gue, adalah jantung dia.”
“haha. Bener tuh (y)”
***
Agni sedang sibuk di dapur, sementara Cakka lagi asyik baca Koran, tiba-tiba terdengar bunyi gaduh dari kamar Ray.
“CAKKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! Liat tuh si Ray kenapa!” teriak Agni.
“lo aja, Ag, lo kan mamanya.” Kata Cakka santai.
Agni mematikan kompor lalu melotot kearah Cakka.
“iya, iya, Ag! Gue liat deh si Ray kenapa.”
Ray adalah anak Agni dan Cakka. dia itu kerjanya ngacak-ngacak rumah. Makanya males banget deh si Agni kalo udah beresin rumah dan beresin kamar Ray.
“Ray kamu ngapain!” Tanya Cakka ketika melihat Ray sudah bermain dengan kotak pink bergambar hati.
“eh, itukan…” Cakka mengambil kotak itu dan tersenyum. Foto-foto yang diabadikannya 7 tahun lalu tersimpan rapi di kotak itu.
“kok bisa ada di kamar kamu, Ray?” Tanya Cakka.
“ndahh.. tau… pa.. pa..” jawab Ray sambil minta gendong papanya.
“aduh, sabar Ray. papa mau liat ini foto-foto kenangan.” Kata Cakka.
Senyum Cakka mengembang melihat foto-fotonya dengan Sivia, Agni, dan Gabriel dulu. Cakka menemukan sebuah foto Agni dan lelaki dengan senyum manis. Mereka berdua sedang berfoto di sekolah. Agni dengan gaya memeletkan lidah sementara Ozy mencium pipi Agni.
“Ozy…” gumam Cakka sambil tersenyum. Dibelakang foto terdapat tulisan tangan bertuliskan “FIRST AND LAST LOVE!!”
Cinta pertama Agni memang Ozy. Tapi, cinta terakhir Agni adalah Cakka.
Cakka menyimpan foto tersebut dibawah tempat tidur Ray, lalu menatap keluar jendela. Tak sengaja dilihatnya Ozy dengan pakaian serba putih berdiri dan tersenyum. Cakka membalas senyuman Ozy sambil mengancungkan kedua jempolnya.
‘pasti, Zy. Pasti, gue akan membahagiakan Agni sampai akhir hayat. Hokum gue kalo gue nyakitin Agni.’
***

THE END..
Gaje ;) abis lagi buntu. Haha
Sekian dan terimakasih yaaaaaaaaaaaaaaaaaa :D

_no copas_
*idih pede amet*
Achma Desvania Prasetya
Twitter: @paniayams


Comments

  1. Kak Kak sorry ya aku ubek ubek blog Kakak hehe .-.
    abis cerita Kakak keren'' nih aah Laaff deh sama cerita'' Kakak

    ReplyDelete

Post a Comment